*** Assalaamu'alaikum *** Selamat Datang di Rumah Maya Kami *** Yoroshiku Onegaishimasu ***

Minggu, 30 Mei 2010

Bahagia (lagi)

Setelah kita tahu bahwa letak kebahagiaan itu ada di dalam (hati), selanjutnya yang harus dilakukan adalah memulai perjalanan ke dalam hati diri kita masing - masing. Namun sebelumnya simaklah pesan mantan Sekjen PBB, Dag Hammersjold, yang banyak melakukan perjalanan antarnegara dan antarbenua. Dia mengatakan; ''Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan masuk ke dalam diri kita sendiri.'' Kalau di bahasa kita ada pepatah; Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi kuman di seberang lautan nampak. Ada lagi pepatah mengatakan; Buruk muka cermin dibelah. Atau kata bijak yang lain; Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput rumah sendiri. Ini menunjukkan bahwa memang untuk masuk dan melihat diri sendiri secara utuh itu sangat berat – tantangannya, dan dibutuhkan perjuangan yang panjang, baik menurut ukuran waktu dan lika – liku jalan yang harus ditempuh. Terlebih jika tidak mendapatkan bimbingan dari orang yang tepat dan petunjuk pelaksanaan yang jelas, oh niscaya gagal keprathal di tengah jalan, bahkan ketika baru memulainya.

Untuk memulai perjalanan ke dalam hati prinsip pertama yang harus disadari adalah bahwa semua amal yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Ingatlah firman Allah dalam Surat Fushilat ayat 46 :Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) berat atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya. Kita berbuat baik hasilnya akan kita petik nanti. Sebaliknnya jika kita berbuat jelek, maka hasilnya juga kita yang akan menuai nanti. Adapun orang lain ikut merasakan kebaikan yang kita perbuat, itu hanyalah efek samping. Bisa juga dikatakan sebagai lebihan atau cermin. Yang terpenting adalah bahwa hati kita merasakan kepuasan ketika kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Hati merasa bahagia sebab kita bisa menyenangkan orang lain. Kebahagian mereka adalah kebahagiaan kita sebab kita hanya sebagai perantara saja. Tak lebih. Yang kita lihat adalah apa yang akan dirasakan hati kita. Tidak terbalik, kita malah mengharapkan balasan darinya. Atau merasa sombong dengan kebaikannya. Kalau bukan karena saya, oh pasti....... .. Karakter (lembah manah) seperti di atas akan didukung apabila kita bisa memiliki paradigma menjadi, bukan memiliki dalam keseluruhan hidup ini.

Dalam kehidupan ada dua paradigma. Pertama, golongan "Memiliki", dan kedua aliran "Menjadi". Paradigma "Memiliki" dianut oleh kebanyakan orang. Disini ukuran kesuksesan adalah apa yang kita miliki. Manusia dinilai dan menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki : harta, rumah, kendaraan, jabatan, pangkat, dan sebagainya. Paradigma Menjadi adalah paradigma yang melihat seseorang berdasarkan kualitas kemanusiaannya. Disini yang penting bukanlah apa yang kita miliki tetapi karakter kita, kepribadian dan pertumbuhan diri kita sendiri. Orang dengan paradigma Menjadi bukannya tak memiliki barang apapun. Ia juga memiliki sesuatu dan mencintai sesuatu itu, tetapi ada batasnya: ''Sesungguhnya dunia ini hijau dan manis, maka barang siapa yang mendapatkannya dengan baik, niscaya akan diberkati. Tapi, siapa yang mendapatkannya dengan cara berlebih-lebihan, niscaya tidak diberkati. Seperti layaknya orang yang makan dan makan, tanpa pernah merasa kenyang. Bedanya, ia tak terikat dan tergantung dengan sesuatu itu. Ia sadar bahwa kebahagiaan sejati hanya didapat dengan mencari ke dalam dirinya. Ia sadar bahwa apa yang dimilikinya hanyalah pinjaman yang suatu ketika akan kembali kepada pemiliknya yang sejati. Karena itu kehilangan sesuatu baginya bukanlah kehilangan segalanya. Jangan lupa, manusia disebut sebagai Human Being dan bukan Human Having!

Paradigma "Memiliki" mempunyai beberapa kelemahan. Pertama, manusia takkan bahagia, karena akan selalu merasa kekurangan. Manusia terus dipacu untuk memiliki lebih banyak lagi. Manusia yakin akan bahagia bila semua keinginan Manusia terpenuhi. Padahal keinginan inilah yang membuat Manusia tegang dan frustasi. Manusia tak bahagia karena lebih memusatkan diri pada segala sesuatu yang tidak Manusia miliki dan bukannya pada apa yang telah Manusia miliki.

Kedua, paradigma memiliki akan membuat Manusia dihantui ketakutan. Manusia takut kehilangan apa yang telah Manusia peroleh dengan susah payah. Bayangkan orang yang berani bersikap kritis. Coba beri ia jabatan. Biasanya keberanian dan daya kritisnya akan menurun. Mengapa? Karena kini ia sibuk dengan jabatannya. Ia sibuk melakukan apapun juga supaya jabatannya tak hilang. Ada guyonan, apa bedanya pejabat dengan guru? Kalau guru menyampaikan materi dalam presentasi dilakukan dengan posisi berdiri, sedangkan pejabat jika menyampaikan materi dilakukan dengan duduk. Mau tahu kenapa? Sebab takut hilang kursinya kalau ditinggal berdiri. Ketakutan kehilangan kekuasaan ini sebenarnya jauh lebih berbahaya ketimbang kekuasaan itu sendiri!

Ketiga, hidup kita akan stagnan. Terpenuhinya keinginan manusia paling-paling hanya membawa kesenangan sesaat. Begitu manusia memiliki sesuatu, penghargaan manusia pada sesuatu itu biasanya berkurang. Seorang lelaki tertarik pada seorang gadis cantik, kemudian menikahinya. Lantas, apa lagi? Ini beda dengan paradigma "Menjadi". Manusia tetap bisa meningkatkan kualitas diri menjadi suami yang makin baik dari waktu ke waktu. Paradigma "Menjadi" memang tak ada batasnya.

Jadi, mari kita sadari bersama bahwa langkah awal untuk bahagia adalah menyadari bahwa semua tindakan yang akan kita lakukan akan kembali bermuara pada diri kita masing - masing. SAPMB JKH (sumber: fami)
Berikutnya...

Kamis, 27 Mei 2010

Musholla Baru Kure



Alhamdulillaah, mulai bulan Mei ini keluarga besar Mbah Man Hiroshima menempati tempat baru dalam rangka peningkatan ilmu agama di negeri shinto ini. Tampak dalam gambar sebagian peserta asrama saat liburan Golden Week dan saat menikmati sarapan pagi berkecap ABC ria :)
Berikutnya...

Senin, 10 Mei 2010

Turut berbahagia atas kelahiran RUKA CHIN

Keluarga Besar Sakura Mbah Man Jepang turut berbahagia dan mengucapkan selamat atas lahirnya putri pertama pasangan Rudi Yanto (Indonesia) dan Yuka San (Jepang) pada hari Sabtu/8 Mei 2010 di RS. Rosa, Hiroshima.

Nama : Hirata Yanto Ruka
Berat : 3,5 kg
Panjang : 59 cm

Semoga Alloh SWT. menjadikannya sebagai generasi penerus pejuang agama Islam yang sholihah, serta senantiasa berguna bagi agama, bangsa dan keluarga, amin.
Berikutnya...

Rabu, 27 Januari 2010

Cara Benar Memasak Mie Instan


Assalaamu`alaikum Wr.Wb.
Para mie lover all over the world, berikut ini adalah cara benar memasak mie instan yang selalu kita puja-puja itu, karena selain harganya murah, mie secara ‘instan’ pula bisa mengenyangkan perut yang sedang kelaparan akut. Loh? Apa nih maksudnya cara yang benar ? Emang ada cara yang salah ya ? Hmm, selama ini kan instruksi yang tertera di bungkus mie menyatakan:
“rebus mie dalam air panas selama +/- 3 menit, lalu masukkan bumbu dalam rebusan, dan, it was done!”

Teman-teman sekalian yang lagi serius membaca, dengan cara masak kaya gitu, tau ga sih kalo kita udah melakukan kesalahan yang sangaaaaat besar banget pada hidup kita? beneran loh, karena nih:
1. bumbu yang langsung dicampur dengan air rebusan yg mendidih dimana bumbu itu adalah MSG, maka air rebusan itu akan ngerubah struktur molekular MSG tersebut yang ahirnya jadi toxic alias racun bagi tubuh kita.
2. hal yang mungkin ga semua orang sadarin adalah mie itu sendiri kan dilapisin oleh wax atau lapisan lilin yang pada umumnya perlu waktu sekitar 4-5 hari untuk dicerna oleh tubuh.

Nah, kalo kita masak kaya di atas tadi, kebayang dong yaaa ...
KITA MAKAN RACUN UNTUK NGENYANGIN PERUT KITA
Wadoooh, kasian amat ya tu perut. Yang makan mie kan mulut kita, tapi dia yang ga salah apa-apa jadi kena batunya .
Oke , jadi harusnya masak mie tuh kaya apa sih? Ini dia:
1. rebus mie dalam air mendidih.
2. saat mie udah matang, angkat dan tiriskan mie, dan BUANG air rebusan mie tadi yang mengandung lilin.
3. rebus air lagi di tempat yang lain sampe mendidih, lalu masukin mie dalam air didihan yang kedua tadi, matiin kompor saat udah selesai.
4. pada saat api UDAH mati, dan air masih sangat panas, baru deh masukin bumbunya (kalo yang dibuat adalah mie berkuah).
5. kalo yang dimasak adalah mie goreng, saring dulu mie dari rebusan air yang kedua, lalu campurin deh ama bumbunya.

Ga susah kan ya? Ubah sedikit kebiasaan, tapi perut maupun tubuh kita yang lain ikut selamat. Sekian mudah-mudahan bermanfaat,,,
Alhamdulillaahi jazaa kumulloohu khoiroo,
Wassalaamu`alaikum wr.wb. (sumber: mbahman fukuoka)

Berikutnya...

Jumat, 28 Agustus 2009

Mustajabnya Do'a

1. PADA WAKTU TENGAH MALAM ATAU AKHIR MALAM
Rasullah bersabda: pada tiap malam, tuhan kita turun ke langit dunia ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman: "barangsiapa yang berdo'a kepada-Ku, pasti akan Ku-kabulkan, dan siapa yang memohon kepadaKu, pasti akan Ku-beri,dan siapa yang mohon ampun kepadaKu pasti akan Ku ampuni". (Hr.malik, bukhari, muslim, tirmidzi dan selainnya)

Bila telah lewat sebagian malam atau dua pertiganya, akan turun ke langit dunia Allah Yang Maha Memberkati dan Maha Tinggi, lalu berfirman: "tak seorang pun yang meminta pasti ia akan Ku-beri, tak ada seorang pun yang berdoa pasti ia akan dikabulkan, tak ada seorang pun yang mohon ampun pasti ia akan Ku-ampuni". Sehingga tiba waktu shubuh. (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sedekat-dekat Allah (tuhan) dari hamba-nya ialah di tengah malam. maka dari itu, jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu maka kerjakanlah, (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. SESUDAH SHALAT FARDHU
ditanyakan orang kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, manakah doa yang paling didengar Allah? rasulullah menjawab: doa di tengah malam dan doa setelah shalat wajib (Hr. Tirmidzi)

3. DI WAKTU LAPANG
Barangsiapa yang menginginkan doanya dikabul Allah ketika ia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya (Hr. Thirmidzi dan Hakim)

Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah Azza wa Jalla daripada doa ketika dalam keadaan lapang. (Hr. Hakim)

4. DI WAKTU SUJUD
Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika sujud. Maka perbanyaklah do'a (di waktu itu). (Hr. Muslim)

5. DIAWALI DENGAN ASMAUL HUSNA
serulah Allah atau serulah Arrahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru (adalah boleh) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya itu. (al isra,17 :110)
Winna InsyaAlloh la muhtadun...
Semoga Alloh mengabulkan semua doa-doa kita.Amiin.

Oleh agus sakamoto
Berikutnya...

Jumat, 21 Agustus 2009

Tanpa disadari

11 bulan
banyak kata yang sudah diucapkan dan dilontarkan
tak semua menyejukkan,

11 bulan
banyak perilaku yang sudah dibuat dan diciptakan
tak semua menyenangkan,

11 bulan
banyak keluhan, kebencian, kebohongan
menjadi bagian dari diri,


saatnya istirahat dalam "perjalanan dunia"
saatnya membersihkan jiwa yang berjelaga,
saatnya menikmati indahnya kemurahanNya
saatnya memahami makna pensucian diri

Selamat menunaikan Ibadah Puasa
bersama kita leburkan kekhilafan,

Semoga dengan puasa mempertemukan kita
dengan Keagungan Lailatul Qadar
dan kita semua menjadi pilihanNya
untuk dikabulkan do'a - do'a
dan kembali menjadi fitrah

Mohon maaf lahir dan batin,
semoga Allah SWT menerima seluruh amal kita,
dibulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan.
Amin Allahumma Amin
Yaa Robbal'alamin

Oleh bang jhon
Berikutnya...

Selasa, 30 Juni 2009

MAKNA SEBUAH TITIPAN

Seringkali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan. Bahwa mobilku hanya titipanNya, bahwa rumahku hanya tititpanNya, bahwa hartaku hanya titipanNya. Tetaipi mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkannya padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdo’a kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:“ Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku” Kuperlakukan Dia seolah mitra dagangku, dan bukan kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja“

Ya Allah, padahal setiap hari kuucapkan, sesunggguhnya shalatku, ibadahku hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata….
Astaghfirullahaladzim….ampuni hamba Ya Allah…

Oleh bang john
Berikutnya...